أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.”
Tampilkan postingan dengan label Filsafat Jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat Jawa. Tampilkan semua postingan

Memahami Aksara Jawa

Posted by Admin 0 comments
• Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada ” utusan ” yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasat manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia ( sebagai ciptaan).

• Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data ” saatnya ( dipanggil ) ” tidak boleh sawala ” mengelak ” manusia ( dengan segala atributnya ) harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan.

• Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup ( Ilahi) dengan yang diberi hidup ( makhluk ). Maksdunya padha ” sama ” atau sesuai, jumbuh, cocok ” tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan. Jaya itu ” menang, unggul ” sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan ” sekedar menang ” atau menang tidak sportif.

• Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.

Makna Huruf HANACARAKA

Ha Hana hurip wening suci – adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci
Na Nur candra, gaib candra, warsitaning candara – pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi
Ca Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi – arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal
Ra Rasaingsun handulusih – rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani
Ka Karsaningsun memayuhayuning bawana – hasrat diarahkan untuk kesajeteraan alam
Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan – menerima hidup apa adanya
Ta Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa – mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup
Sa Sifat ingsun handulu sifatullah – membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan
Wa Wujud hana tan kena kinira – ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas
La Lir handaya paseban jati – mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi
Pa Papan kang tanpa kiblat – Hakekat Allah yang ada disegala arah
Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane – Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar
Ja Jumbuhing kawula lan Gusti – Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya
Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi – yakin atas titah/kodrat Illahi
Nya Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki – memahami kodrat kehidupan
Ma Madep mantep manembah mring Ilahi – yakin/mantap dalam menyembah Ilahi
Ga Guru sejati sing muruki – belajar pada guru nurani
Ba Bayu sejati kang andalani – menyelaraskan diri pada gerak alam
Tha Tukul saka niat – sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan
Nga Ngracut busananing manungso – melepaskan egoisme pribadi manusia


Dalam kisah AJISAKA
ha na ca ra ka Dikisahkanlah tentang dua orang abdi yang setia
da ta sa wa la Keduanya terlibat perselisihan dan akhirnya berkelahi
pa da ja ya nya Mereka sama-sama kuat dan tangguh
ma ga ba tha nga Akhirnya kedua abdi itu pun tewas bersama Aksara Jawa ha-na-ca-ra- ka mewakili spiritualitas orang Jawa yang terdalam: yaitu kerinduannya akan harmoni dan ketakutannya akan segala sesuatu yang dapat memecah-belah harmoni. Konon aksara Jawa ini diciptakan oleh Ajisaka untuk mengenang kedua abdinya yang setia.Dikisahkan Ajisaka hendak pergi mengembara, dan ia berpesan pada seorang abdinya yang setia agar menjaga keris pusakanya dan mewanti-wanti: janganlah memberikan keris itu pada orang lain, kecuali dirinya sendiri: Ajisaka. Setelah sekian lama mengembara, di negeri perantauan, Ajisaka teringat akan pusaka yang ia tinggalkan di tanah kelahirannya. Maka ia pun mengutus seorang abdinya yang lain, yang juga setia, agar dia pulang dan mengambil keris pusaka itu di tanah leluhur. Kepada abdi yang setia ini dia mewanti-wanti: jangan sekali-kali kembali ke hadapannya kecuali membawa keris pusakanya. Ironisnya, kedua abdi yang sama-sama setia dan militan itu, akhirnya harus berkelahi dan tewas bersama: hanya karena tidak ada dialog di antara mereka. Bukankah sebenarnya keduanya mengemban misi yang sama: yaitu memegang teguh amanat junjungannya? Dan lebih ironis lagi, kisah tragis tentang dua abdi yang setia ini selalu berulang dari jaman ke jaman, bahkan dari generasi ke generasi.

UNEN UNEN JAWA
* Pamulange sangsarane sesami = pelajarannya sengsaranya sesama
* Sakti tanpa aji = berhasil tanpa sarana
* Sugih tanpa banda = bisa menginginkan apa saja tanpa persiapan
* Ngluruk tanpa bala = menyusup tanpa teman, tetapi selalu mendapatkan hasil
* Ngasorake tanpa peperangan = menang tanpa menggunakan kekerasan/perang (objek)apa kang sinedya teka,apa kang kacipta dadi = apa yang diinginkan/diamaui akan terjadi/ tercipta.
* Digdaya tanpa aji = sakti tanpa ajian
* Trimah mawi pasrah = menerima dengan menyerah
* Suwung pamrih tebih adjrih = sepi hasrat jauh dari takut
* Langgeng tan ana susah tana ana bungah= tenang tetap hidup nama
* Mmurid gurune pribadi = murid gurunya pribadi

Baca Selengkapnya ....

Sejarah Jawa Dari Awal hingga Akhir (Kiamat)

Posted by Admin 0 comments
Untuk lanjutanya serat pramono sidhi coba kami tuliskan dalam bahasa nasional dan kami beri keterangan tambahan.
Pulau Jawa

PULAU JAWA JAMAN PERTENGAHAN:
Dinamakan jaman kala yoga artinya jaman PEPATUT.Umur tanah jawa menurut tahun masehi berumur 700tahun sedangkan menurut kalender jawa berumur 703 tahun.Dijaman KALA YOGA terdapat 7 masa lagi.Dan setiap masanya terdiri dari 100tahun.

Jaman KALA BRATA
Artinya jaman LAMPAH LAKU.Saat itu orang jawa banyak melakukan laku NGESTHI kepada Tuhanya.Tanah jawa berumur 800tahun.

Jaman KALA WIGNYA
Artinya jaman lumprah.Orang jawa saat itu melumprahkan ilmunya.Tanah jawa berumur 900tahun.

Jaman KALA YUDA
Artinya jaman perang.Ditanah jawa mulai banyak peperangan.Umur tanah jawa 1000tahun.

Jaman KALA WISESA
Artinya jaman menangnya sendiri2.Mulai berkurangnya keadilan ditanah jawa yang sudah tertata.Tanah jawa berumur 1100 tahun.

Jaman KALA WISAYA
Artinya banyak kemaksiatan dan perselisihan.Tanah jawa berumur 1200tahun.

Jaman KOLO JANGGA
Artinya jaman memuja kerongkongan.Orang ditanah jawa mulai mengejar materi.Tanah jawa berumur 1300tahun.

Jaman KALA SAKTI
Artinya jaman kesaktian.Orang ditanah jawa mulai mengolah kesaktian.Tanah jawa berumur 1400tahun.

LALU MENGINJAK JAMAN AKHIR ATAU DISEBUT JAMAN KALI SANGORO
Artinya jaman WEKASAN/Akhir.Yang didalamnya ada 7 masa pula:

Jaman KALA JAYA
Artinya jaman UNGGUL tanah jawa mencapai kemakmuran.Tanah jawa berumur 1500tahun.

Jaman KALA BENDHU
Artinya jaman murka.Penduduk tanah jawa mendapat murka dari tuhan.Mulai banyak perselisihan dan egois menuruti keinginan individu.Tanah jawa berumur 1600tahun.

Jaman KALA MARTA
Artinya ketentraman.Orang tanah jawa mendapatkan ketentraman karena dipimpin oleh RATUNING HAMBEG PARAMARTA disebut juga RATU ADIL.Tanah jawa berumur 1700tahun.

Jaman KALA ASMARA
Artinya jaman KASMARAN.raja2 dan orang tanah jawa mulai berpoligami.Tanah jawa berumur 1800tahun.

Jaman KALA BRASMA
Artinya jaman kepanasan RATUNING ONCAT SAKING PENGADILAN/rajanya dapat lepas dari jerat hukum.(tambahan: yaitu masa orde baru).Tanah jawa berumur 1900tahun.

Jaman KALA SINELA
Artinya jaman KASELAN/DISELINGI/JEDA.Ditanah jawa diselingi pemimpin yang bukan keturunan raja.”Ing tanah jawi kaselan ratu sanes dharahipun ratu jawi.Inggih puniko ratu sabrang ing nuswa sarenggi utawi saking sabrang ngatas angin. Wekasan dadosaken susahing tiyang alit”.Tanah jawa berumur 2000tahun (tambahan:tanah jawa mulai dipimpin oleh pemimpin bukan dr keturunan raja dia berasal dr luar jawa/sabrang.Berasal dr negri ngatas angin yaitu dr asalnya angin mamiri=Bpk.BJ.HABIBIE.Rakyat kecil mulai menderita sampai batas waktu yang ditentukan. sudah kodratnya jaman harus begitu).

Jaman KALA TINATA
Artinya jaman lagi dibenahi.Mulai masa itu tanah jawa dibenahi.Rajanya raja yang baik dan mendatangkan kebaikan bagi rakyat.Hilangnya agama2 dan keyakinan2 lama dan timbulnya agama baru yang akhirnya/wekasan tiba hari KIAMAT dengan ditandai datangnya BAB BATU ARLI(maaf kami tidak tahu artinya)berperang melawan IMAM MAHDI.Tanah jawa berumur 2100 tahun masehi.Kalau menurut kalender jawa berumur 2163 tahun.Artinya hari kiamat didahului adanya pertanda musnahnya agama muhamad saw. Jadi sudah tidak ada SALAT SEMBAHYANG,PITEKUR PUJO,Lan OLAH BROTO(sudah tidak ada orang sholat,tafakur dzikir dan orang bertapa).Ing ngriku kanjeng nabi NGISA tumurun puniko pasemon dados ing jaman wekasan sampun angrasuk agami kristen sedoyo(lalu disitu Turunya nabi ISA as.Yang merupakan pertanda ditanah jawa diakhir jaman sudah beragama kristen semua).Tambahan:coba kita cocokan dg hari kiamat yg bersumber dari hadits:tidak akan terjadi hari kiamat bila masih ada orang islam walau hanya satu orang saja.Mungkinkah kiamat sudah sangat dekat ditahun 2100?Wallohu ‘alam.Bukan 212 lho kl dari ulasan serat ini.Mohon maaf bila ada kesalahan dalam menterjemahkan.Yang ada tulisan Tambahan berarti tambahan dr saya pribadi.Sedangkan lainya saya berusaha menterjemahkan teks aslinya.Nuwun…

Sumber : http://songgobumi.wordpress.com/2011/09/02/sejarah-pulau-jawa-dari-awal-sampai-kiamattamat/

Baca Selengkapnya ....

Mengenal Sedulur Papat Lima Pancer

Posted by Admin 1 comments
Dalam pemikiran Jawa pengertian Sedulur Papat Limo Pancer (Empat Saudara dan Yang Kelima Tengah) mempunyai pengertian yang terus berkembang dari zaman pra-Islam hingga zaman Islam.
Gunungan

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Pengertian asalnya adalah penyelarasan antara jagad kecil (manusia-mikrokosmos) dengan jagad besar Alam Semesta (makrokosmos). Saudara yang empat yang ada di jagad besar itu adalah empat kiblat yang ada yaitu timur, selatan, barat dan utara. Ditambah saudara pancer yaitu tengah dimana diri manusia itu berada. Sedangkan empat saudara yang berkaitan dengan jagad kecil (manusia) adalah apa-apa yang mengiringi kelahirannya. Mereka itu adalah kakang kawah (air ketuban), adi ari-ari (plasenta), getih (darah) dan puser (tali plasenta). Sedangkan yang kelima pancernya adalah diri manusianya itu sendiri.

Dari pengertian asal ini kemudian berkembang dengan adanya pengaruh agama Hindu. Sedulur papat (empat saudara) kemudian dimaknai selain sebagai empat kiblat juga kemudian dimaknai sebagai unsur alam yang menjadi pembentuk jasad manusia. Empat anasir ini adalah bumi/tanah, air, api dan angin. Sedang yang kelima pancer adalah diri manusia itu sendiri.

Bagi orang Jawa semua 'sedulur' tadi harus diruwat, dirawat dan dihormati dengan cara diselamati dengan 'bancaan' atau tumpengan. Mereka semua dianggap 'pamomong' atau penjaga manusia. Biasanya penyebutan untuk mereka dan sekalian untuk unsur- unsur alam semesta disebut dengan "sedulurku sing lahir bareng sedino, sing ora lahir bareng sedino, sing kerawatan lan sing ora kerawatan". Artinya : "saudaraku yang lahir bersamaan sehari denganku ( air ketuban, ari-ari, darah kelahiran, tali plasenta,dan ruh/jiwa ), saudara yang tidak lahir bersamaan (unsur alam semesta ), yang terawat maupun yang tidak terawat".

Namun pengertian ini kemudian berkembang lagi dengan adanya pengaruh agama islam. Oleh Kanjeng Sunan Kalijaga kemudian ditambahkan pengertian baru yang bernafaskan Islam. Yaitu empat saudara itu adalah empat jenis nafsu manusia sedangkan yang kelima pancer adalah hati nurani atau 'alam rahsa / sirr'. Unsur empat nafsu adalah nafsu aluamah, sufiyah, amarah dan muthmainah.

Nafsu aluamah berkaitan dengan insting dasar manusia. Yaitu keinginan untuk makan, minum, berpakaian, bersenggama, dll. Dikatakan bahwa nafsu aluama ini terjadi karena pengaruh unsur tanah yang menjadi unsur pembentuk jasad manusia.

Nafsu sufiyah berkaitan dengan keinginan duniawi untuk dipuji, untuk kaya, mendapat derajad dan pangkat, loba, tamak dll. Nafsu ini berpadanan dengan sifat udara yang menjadi unsur pembentuk jasad. Sifat dari udara adalah selalu ingin memenuhi ruang selagi ruang itu ada (ruang kosong).

Nafsu amarah berkaitan dengan keinginan untuk mempertahankan harga diri, rasa marah, emosi dll. Dikatakan nafsu ini mendapat pengaruh dari sifat panas / api yang menjadi pembentuk jasad mansia.

Nafsu muthmainah adalah nafsu yang mengajak kearah kebaikan. Dikatakan bahwa nafsu ini mendapat pengaruh sifat air yang juga menjadi pembentuk jasad manusia.

Untuk penyebutan unsur kelima pancer ada bermacam- macam penafsiran. Ada yang mengatakan Nur Muhammad, ada yang mengartikan sebagai 'guru sejati', ada yang menyebut 'roso jati sejatining roso' (rasa sejati, sejatinya rasa). Intinya saudara pancer yang kelima itu adalah unsur 'super ego' yang menjadi sumber nilai bagi manusia. Dalam hal ini saya cenderung mengartikan sebagai "bashiroh" yaitu mata hati yang bersumber dari kesejatian 'min Ruhi' yang dianugerahkan oleh ilahi.

Keempat nafsu yang ada harus 'dirawat', diatur, diseimbangkan dan harus berjalan dibawah kendali akal dalam bimbingan hidayah ilahi. Itulah makna dari 'angaweruhi' (merawat) sedulur papat limo pancer. Namun bagi saya, pemaknaan yang konfrenhensif yang melibatkan macam-macam pengertian yang ada itulah yang harus kita hayati. Yaitu mengakui dan menyelaraskan diri kita (mikrokosmos) sebagai bagian dari jagad besar (makrokosmos) dan sekaligus pengendalian diri kita atas nafsu-nafsu kita dibawah akal dan dalam 'pituduh' (petunjuk /hidayah) ilahi.

Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Baca Selengkapnya ....

Makna Pacul...?

Posted by Admin 0 comments
P A C U L
Pacul (Cangkul, Ind) adalah salah satu alat pertanian tradisional yang pokok. Fungsinya untuk mencangkul tanah, sehingga posisi tanah yang semula dibawah menjadi di atas, atau membalik tanah. Pada umumnya, kondisi tanah sehabis digunakan dari awal tanam hingga masa panen tidak subur lagi. Tanahnya menjadi keras, kering dan kehabisan O2. agar tanah menjadi subur lagi dan siap ditanam kembali, tanah harus diolah. Mengolahnya dengan cara dicangkul, dibalik agar tanah mendapatkan O2, digemburkan dicampur dengan rabuk alami, sehingga siap ditanami tanaman baru sesuai dengan musimnya.

Pacul, sipat papat ora kena ucul artinya bahwa Cangkul mempunyai 4 komponen yang saling berkaitan, tidak boleh lepas, karena jika salah satu komponennya lepas, cangkul tersebut tidak dapat digunakan.

Empat komponen tersebut meliputi :
  1. Duran, aja mundur yen durung nampa dhawuhe Pangeran, artinya jangan berhenti sebelum mendapatkan perintah dari Tuhan. Duran berfungsi sebagai pegangan.
  2. Bawak, obahing awak, artinya badan yang bergerak, atau bekerja, berkarya. Bawak berfungsi sebagai pendorong tekanan dan penguat mata pacul.
  3. Landheping pacul, mata pacul, artinya bakat kemampuan yang ada, atau talenta yang dianugerahkan bagi masing-masing orang. Mata pacul berfungsi sebagai ‘pemecah’ tanah.
  4. Tandhing. Berfungsi sebagai pengikat, pemersatu antara duran, bawak dan mata pacul yang melekat pada bawak.

Makna pacul secara filosofis ialah bahwa orang hidup harus bekerja dan berkarya sesuai dengan profesinya, talentanya. Bekerja tidak sekedar untuk memenuhi kebutuhan jasmani tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan rohani. Antara yang rohani dan jasmani disatukan dengan harmonis dan seimbang. Karena dengan demikian pekerjaan yang dihasilkan akan maksimal dan membahagiakan. Jangan pernah mundur ataupun berhenti bekerja selama kita masih mampu, kecuali Tuhan yang menghendaki agar pekerjan dihentikan.

Baca Selengkapnya ....
Design by Tain | © 2012 PACUL DORAN.